Featured Contents

Sample Post 1

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. [...]

Sample Post 2

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. [...]

Sample Post 3

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. [...]

Sample Post 4

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. [...]

Latest Posts

0

Kimia Analitik Dasar dengan Strategi Problem Solving dan Open-ended Experiment

Unknown Jumat, 14 September 2018
Kimia Analitik Dasar
dengan Strategi Problem Solving dan Open-ended Experiment


Judul                     : Kimia Analitik Dasar
                              dengan Strategi Problem Solving dan Open-ended Experiment
Penulis                   : Dr. Indarini Dwi Pursitasari, M.Si.
Editor                    : Prof. Dr. Anna Permanasari, M.Si.
Desain/Tata letak  : Ferli Zulhendri
Penerbit                 : Alfabeta, cv Bandung
Tahun Terbit         : 2014
Ukuran buku         : 16 x 24 cm
Tebal buku            : viii + 208 halaman
Bahasa                   : Indonesia
Cetakan                 : Pertama
ISBN                     : 978-602-289-069-0

Buku kimia analitik dasar dengan Strategi Problem Solving dan Open-ended Experiment ini ditulis oleh Dr. Indarini Dwi Pursitasari, M.Si. kemudian diedit oleh Prof. Dr. Anna Permanasari, M.Si. Buku ini ditulis pada tahun 2014. Penyusunan buku ini dilatarbelakangi oleh kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan problem analitik serta hasil penelitian disertasi. Kini buku ajar ini hadir khususnya bagi mahasiswa yang mengambil jurusan pendidikan kimia. Dengan tujuan agar mahasiswa dapat memahami materi analisis kuantitatif, khususnya analisis gravimetri dan analisis titimetri. Akhirnya Penulis meluncurkan buku ini dengan cetakan pertama pada September 2014. 
Buku ini memaparkan pengetahuan mengenai karakteristik materi kimia analitik dengan strategi problem solving dan open-ended, pengolahan data hasil analisis kuantitatif, pengantar analisis kimia kuantitatif, analisis kuantitatif konvensional, metode analisis gravimetri, titrasi asam-basa, titrasi pengendapan, titrasi pembentukan kompleks, serta titrasi reduksi oksidasi. 
Kimia analitik merupakan salah satu cabang Ilmu Kimia yang mempelajari tentang pemisahan dan pengukuran unsur atau senyawa kimia. Untuk menentukan komposisi dan struktur materi yang diawali dengan pengambilan sampel, melakukan pengukuran, menganalisis data yang diperoleh, dan menjelaskannya menjadi informasi pengetahuan yang baru. Dengan adanya penggunaan startegi problem solving dan open-ended dapat meningkatkan motivasi, penguasaan materi, keterampilan merancang dan melaksanakan eksperimen. 
Dalam analisis kimia kuantitatif memerlukan peralatan dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Selain itu juga memerlukan beberapa peralatan laboratorium dasar yang terbagi menjadi dua yaitu; pertama, peralatan untuk pengukuran merupakan peralatan laboratorium yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang massa maupun volume suatu zat yang diperlukan dalam analisis kimia. Peralatan ini terdiri dari; neraca, buret, labu ukur, gelas kimia, gelas ukur,dll. Kedua, peralatan pendukung merupakan peralatan yang diperlukan untuk menunjang keterlaksanaan dan keberhasilan suatu metode analisis kimia kuantitatif, sehingga diperoleh hasil yang maksimal. Beberapa jenis peralatan pendukung yang diperlukan dalam analisis kimia kuantitatif yaitu; pipet tetes, oven, gelas arloji, tabung reaksi,dll.
Analisis kimia kuantitatif bertujuan untuk menentukan kadar atau konsentrasi suatu analit dalam sampel tertentu. Dalam analisis kuantitatif konvensional melibatkan proses kimia, sedangkan dalam analisis kuantitatif instrumentasi melibatkan proses fisika dengan menggunakan prinsip interaksi materi dengan energi dalam pengukurannya. Analisis kuantitatif konvensional terdiri atas analisis gravimetri dan analisis titimetri
Pada prinsip analisis gravimetri, sampel dilarutkan dengan pelarut yang sesuai, kemudian ditambahkan zat pengendap. Langkah-langkah dalam analisis gravimetri adalah pelarutan sampel, menambahkan pereaksi, penyaringan endapan, penimbangan endapan, dan perhitungan. Proses pengendapan diawali dengan pembentukan inti yang selanjutnya ukuran inti tersebut semakin besar dan mengendap ke dasar wadah. Analisis gravimetri dapat dilakukan untuk menentukan kuantitas besi, alumunium, barium, sulfat, klorida, fosfat, nikel, dan lain-lain. 
Sedangkan pada prinsip analisis titrimetri, larutan sampel dititrasi dengan larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan analit. Jenis analisis titimetri adalah titrasi asam-basa, titrasi pengendapan, titrasi pembentukan kompleks, dan titrasi reduksi oksidasi. Titrasi asam basa merupakan titrasi antara asam atau basa dengan menggunakan larutan standar asam kuat atau basa kuat. Kurva titrasi menggambarkan hubungan antara volume larutan standar yang ditambahkan dengan pH larutan. Untuk melihat titik akhir titrasi ditandai dengan adanya perubahan warna indikator asam dan basa.
Titrasi pengendapan atau sering disebut dengan titrasi argentometri merupakan titrasi terhadap larutan analit dengan larutan standar perak nitrat. Kurva titrasi argentometri menyatakan hubungan antara volume titran ( zat pengendap ) yang ditambahkan dengan pCl atau pAg. Titrasi argentometri dapat dibedakan atas tiga metode berdasarkan indikator yang digunakan untuk penentuan titik akhir, yaitu; metode Mohr, metode Volhart, dan metode Fajans.
Titrasi kompleksmetri merupakan titrasi terhadap larutan analit dengan titran yang mampu membentuk ion atau senyawa kompleks. Titrasi kompleksmetri dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu; titrasi yang melibatkan ligan monodentat dan titrasi yang melibatkan ligan polidentat. Prosedur yang dapat digunakan dalam dalam titrasi dengan EDTA antara lain titrasi langsung, titrasi balik, titrasi substitusi, titrasi tidak langsung, dan titrasi alkalimetri.
Titrasi redoks merupakan titrasi terhadap larutan analit dengan larutan standar oksidator atau reduktor. Pada kurva titrasi redoks menyatakan hubungan antara volume oksidator atau reduktor yang ditambahkan dengan potensial sel yang terukur selama berlangsungnya proses titrasi. Metode titrasi redoks dapat digunakan untuk menentukan kuantitas analit seperti besi, bromin, hidrogen peroksida, nitrit, oksalat, kalsium, dll.
Banyak keunggulan yang dimiliki buku ini, diantaranya dari segi materi yang dipaparkan dalam buku ini sudah baik. Dimana pada setiap bab disajikan pembahasan materi yang sangat detail serta dilengkapi dengan contoh-contoh soal dan latihan soal untuk mempermudah pembaca dalam hal menguasi materi yang disajikan. Dalam tata bahasa yang disampaikan membuat pembaca mudah dalam memahami materi yang dipaparkan. Buku ini memiliki sampul dengan warna yang menarik serta jenis kertas yang baik sehingga membuat kenyamanan pada setiap orang yang membacanya. Di samping itu juga terdapat lampiran-lampiran yang lengkap pada buku ini sehingga mempermudah pembaca dalam memahami materi.
Disamping memiliki keunggulan, dalam sebuah karya juga tidak terlepas dari suatu kelemahan. Dalam buku kimia analitik dasar ini masih terdapat hal-hal kecil yang membuat buku ini dinilai kurang baik, yaitu dilihat dari segi penyajian gambar yang tidak berwarna sehingga menurunkan daya tarik pembaca, serta biografi penulis tidak dicantumkan di dalam buku ini, pembaca akan mengalami kesulitan sebagai contoh dalam hal pengerjaan tugas mungkin ada materi pelajaran yang berkaitan dengan hal tersebut. 
        Akhirnya, buku Kimia analitik dengan strategi problem solving ini dapat dijadikan pedoman bagi mahasiswa khususnya jurusan kimia. Di dalam buku didapatkan sejumlah pengetahuan dan keterampilan dari analisis kuantitatif yaitu analisis gravimetri dan analisis titimetri. Dengan adanya buku kimia analitik dasar dengan strategi problem solving ini di harapkan agar pembaca memperoleh atau mengembangkan suatu cara atau prosedur untuk mencapai tujuan tertentu berdasarkan penalaran atau secara ilmiah.

Daftar pustaka :
Pursitasari, I. Dwi. 2014. Kimia Analitik Dasar dengan Strategi Problem Solving dan Open-ended Experiment. Edisi Pertama. Bandung: Alfabeta.
0

Biografi Ki Hajar Dewantara

Unknown Kamis, 14 Maret 2013

Biografi Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun.Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah.

Masa muda dan awal karier
Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.
Aktivitas pergerakan
Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.
Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik eens Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, tahun 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.


"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian. Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.

Dalam pengasingan
Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.
Taman Siswa
Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.
Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ("di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.
Pengabdian di masa Indonesia merdeka
Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959.


0

Biografi Sir Isaac Newton

Unknown
Biografi Sir Isaac Newton

Sir Isaac Newton adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi dan juga ahli kimia yang berasal dari Inggris. Ia juga ilmuwan paling besar dan paling berpengaruh yang pernah hidup di dunia, lahir di Woolsthrope, Inggris, tepat pada hari Natal tahun 1642, bertepatan tahun dengan wafatnya Galileo. Seperti halnya Nabi Muhammad, dia lahir sesudah ayahnya meninggal Beliau merupakan pengikut aliran heliosentris dan ilmuwan yang sangat berpengaruh sepanjang sejarah, bahkan dikatakan sebagai bapak ilmu fisika modern.

Newton dilahirkan di kota Woolsthorpe-by-Colsterworth, hamlet di countyLincolnshire lahir secara prematur, dimana saat itu bayi prematur tidak diharapkan kehadirannya di dunia. Ayahnya, Isaac, meninggal tiga bulan sebelum kelahiran Newton, dan dua tahun kemudian ibunya, Hannah Ayscough Newton, menikah dengan lelaki lain dan meninggalkan Newton dengan neneknya. Newton merupakan kanak-kanak pintar.
Berdasarkan pernyataan E.T. Bell (1937, Simon and Schuster) dan H. Eves.
Newton memulai sekolah saat tinggal bersama neneknya di desa dan kemudian dikirimkan ke sekolah bahasa di daerah Grantham dimana dia akhirnya menjadi anak terpandai di sekolahnya. Saat bersekolah di Grantham dia tinggal di-kost milik apoteker lokal yang bernama William Clarke. Sebelum meneruskan kuliah di Universitas Cambridge pada usia 19, Newton sempat menjalin kasih dengan adik angkat William Clarke, Anne Storer. Saat Newton memfokuskan dirinya pada pelajaran, kisah cintanya dengan menjadi semakin tidak menentu dan akhirnya Storer menikahi orang lain. Banyak yang menegatakan bahwa dia, Newton, selalu mengenang kisah cintanya walaupun selanjutnya tidak pernah disebutkan Newton memiliki seorang kekasih dan bahkan pernah menikah. Sejak usia 12 hingga 17 tahun, Newton mengenyam pendidikan di sekolah The Kings School yang terletak di Grantham (tanda tangannya masih terdapat di perpustakaan sekolah). Keluarganya mengeluarkan Newton dari sekolah dengan alasan agar dia menjadi petani saja, bagaimanapun Newton terlihat tidak menyukai pekerjaan barunya. Tapi pada akhirnya setelah meyakinkan keluarga dan ibunya dengan bantuan paman dan gurunya, Newton dapat menamatkan sekolah pada usia 18 tahun dengan nilai yang memuaskan.
Di masa bocah dia sudah menunjukkan kecakapan yang nyata di bidang mekanika dan teramat cekatan menggunakan tangannya. Meskipun anak dengan otak cemerlang, di sekolah tampaknya ogah-ogahan dan tidak banyak menarik perhatian. Tatkala menginjak akil baliq, ibunya mengeluarkannya dari sekolah dengan harapan anaknya bisa jadi petani yang baik. Untungnya sang ibu bisa dibujuk, bahwa bakat utamanya tidak terletak di situ.
Pada umurnya delapan belas dia masuk Universitas Cambridge. Di sinilah Newton secara kilat menyerap apa yang kemudian terkenal dengan ilmu pengetahuan dan matematik dan dengan cepat pula mulai melakukan penyelidikan sendiri. Antara usia dua puluh satu dan dua puluh tujuh tahun dia sudah meletakkan dasar-dasar teori ilmu pengetahuan yang pada gilirannya kemudian mengubah dunia.
Pertengahan abad ke-17 adalah periode pembenihan ilmu pengetahuan. Penemuan teropong bintang dekat permulaan abad itu telah merombak seluruh pendapat mengenai ilmu perbintangan. Filosof Inggris Francis Bacon dan Filosof Perancis Rene Descartes kedua-duanya berseru kepada ilmuwan seluruh Eropa agar tidak lagi menyandarkan diri pada kekuasaan Aristoteles, melainkan melakukan percobaan dan penelitian atas dasar titik tolak dan keperluan sendiri. Apa yang dikemukakan oleh Bacon dan Descartes, sudah dipraktekkan oleh si hebat Galileo. Penggunaan teropong bintang, penemuan baru untuk penelitian astronomi oleh Newton telah merevolusionerkan penyelidikan bidang itu, dan yang dilakukannya di sektor mekanika telah menghasilkan apa yang kini terkenal dengan sebutan “Hukum gerak Newton” yang pertama.
Dengan berbagai hasil karya ilmiah yang dicapainya, Newton menulis sebuah buku Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, dimana pada buku tersebut dideskripsikan mengenai teori gravitasi secara umum, berdasarkan hukum gerak yang ditemukannya, dimana benda akan tertarik ke bawah karena gaya gravitasi. Bekerja sama dengan Gottfried Leibniz, Newton mengembangkan teori kalkulus. Newton merupakan orang pertama yang menjelaskan tentang teori gerak dan berperan penting dalam merumuskan gerakan melingkar dari hukum Kepler, dimana Newton memperluas hukum tersebut dengan beranggapan bahwa suatu orbit gerakan melingkar tidak harus selalu berbentuk lingkaran sempurna (seperti elipse, hiperbola dan parabola). Newton menemukan spektrum warna ketika melakukan percobaan dengan melewati sinar putih pada sebuah prisma, dia juga percaya bahwa sinar merupakan kumpulan dari partikel-partikel. Newton juga mengembangkan hukum tentang pendinginan yang di dapatkan dari teori binomial, dan menemukan sebuah prinsip momentum dan angular momentum.
Pendapat Kepala Akademi Ilmiah Berlin tentang Newton: "Newton ialah seorang jenius besar yang pernah ada dan paling beruntung, yang tak bisa kita temukan lebih dari suatu sistem dunia untuk didirikan." Ilmuwan besar lain, seperti William Harvey, penemu ihwal peredaran darah dan Johannes Kepler penemu tata gerak planit-planit di seputar matahari, mempersembahkan informasi yang sangat mendasar bagi kalangan cendikiawan. Walau begitu, ilmu pengetahuan murni masih merupakan kegemaran para intelektual, dan masih belum dapat dibuktikan –apabila digunakan dalam teknologi– bahwa ilmu pengetahuan dapat mengubah pola dasar kehidupan manusia sebagaimana diramalkan oleh Francis Bacon.
Walaupun Copernicus dan Galileo sudah menyepak ke pinggir beberapa anggapan ngelantur tentang pengetahuan purba dan telah menyuguhkan pengertian yang lebih genah mengenai alam semesta, namun tak ada satu pokok pikiran pun yang terumuskan dengan seksama yang mampu membelokkan tumpukan pengertian yang gurem dan tak berdasar seraya menyusunnya dalam suatu teori yang memungkinkan berkembangnya ramalan-ramalan yang lebih ilmiah. Tak lain dari Isaac Newton-lah orangnya yang sanggup menyuguhkan kumpulan teori yang terangkum rapi dan meletakkan batu pertama ilmu pengetahuan modern yang kini arusnya jadi anutan orang.
Newton sendiri agak ogah-ogahan menerbitkan dan mengumumkan penemuan-penemuannya. Gagasan dasar sudah disusunnya jauh sebelum tahun 1669 tetapi banyak teori-teorinya baru diketahui publik bertahun-tahun sesudahnya. Penerbitan pertama penemuannya adalah menyangkut penjungkir-balikan anggapan lama tentang hal-ihwal cahaya. Dalam serentetan percobaan yang seksama, Newton menemukan fakta bahwa apa yang lazim disebut orang “cahaya putih” sebenarnya tak lain dari campuran semua warna yang terkandung dalam pelangi. Dan ia pun dengan sangat hati-hati melakukan analisa tentang akibat-akibat hukum pemantulan dan pembiasan cahaya. Berpegang pada hukum ini dia –pada tahun 1668– merancang dan sekaligus membangun teropong refleksi pertama, model teropong yang dipergunakan oleh sebagian terbesar penyelidik bintang-kemintang saat ini. Penemuan ini, berbarengan dengan hasil-hasil yang diperolehnya di bidang percobaan optik yang sudah diperagakannya, dipersembahkan olehnya kepada lembaga peneliti kerajaan Inggris tatkala ia berumur dua puluh sembilan tahun.
Keberhasilan Newton di bidang optik saja mungkin sudah memadai untuk mendudukkan Newton pada urutan daftar buku ini. Sementara itu masih ada penemuan-penemuan yang kurang penting di bidang matematika murni dan di bidang mekanika. Persembahan terbesarnya di bidang matematika adalah penemuannya tentang “kalkulus integral” yang mungkin dipecahkannya tatkala ia berumur dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun. Penemuan ini merupakan hasil karya terpenting di bidang matematika modern. Bukan semata bagaikan benih yang daripadanya tumbuh teori matematika modern, tetapi juga perabot tak terelakkan yang tanpa penemuannya itu kemajuan pengetahuan modern yang datang menyusul merupakan hal yang mustahil.
Biarpun Newton tidakberbuat sesuatu apapun lagi, penemuan “kalkulus integral”-nya saja sudah memadai untuk menuntunnya ke tangga tinggi dalam daftar urutan buku ini.
Tetapi penemuan-penemuan Newton yang terpenting adalah di bidang mekanika, pengetahuan sekitar bergeraknya sesuatu benda. Galileo merupakan penemu pertama hukum yang melukiskan gerak sesuatu obyek apabila tidak dipengaruhi oleh kekuatan luar. Tentu saja pada dasarnya semua obyek dipengaruhi oleh kekuatan luar dan persoalan yang paling penting dalam ihwal mekanik adalah bagaimana obyek bergerak dalam keadaan itu. Masalah ini dipecahkan oleh Newton dalam hukum geraknya yang kedua dan termasyhur dan dapat dianggap sebagai hukum fisika klasik yang paling utama. Hukum kedua (secara matcmatik dijabarkan dcngan persamaan F = m.a) menetapkan bahwa akselerasi obyek adalah sama dengan gaya netto dibagi massa benda. Terhadap kedua hukum itu Newton menambah hukum ketiganya yang masyhur tentang gerak (menegaskan bahwa pada tiap aksi, misalnya kekuatan fisik, terdapat reaksi yang sama dengan yang bertentangan) serta yang paling termasyhur penemuannya tentang kaidah ilmiah hukum gaya berat universal. Keempat perangkat hukum ini, jika digabungkan, akan membentuk suatu kesatuan sistem yang berlaku buat seluruh makro sistem mekanika, mulai dari pergoyangan pendulum hingga gerak planit-planit dalam orbitnya mengelilingi matahari yang dapat diawasi dan gerak-geriknya dapat diramalkan. Newton tidak cuma menetapkan hukum-hukum mekanika, tetapi dia sendiri juga menggunakan alat kalkulus matematik, dan menunjukkan bahwa rumus-rumus fundamental ini dapat dipergunakan bagi pemecahan problem.
Hukum Newton dapat dan sudah dipergunakan dalam skala luas bidang ilmiah serta bidang perancangan pelbagai peralatan teknis. Dalam masa hidupnya, pemraktekan yang paling dramatis adalah di bidang astronomi. Di sektor ini pun Newton berdiri paling depan. Tahun 1678 Newton menerbitkan buku karyanya yang masyhur Prinsip-prinsip matematika mengenai filsafat alamiah (biasanya diringkas Principia saja). Dalam buku itu Newton mengemukakan teorinya tentang hukum gaya berat dan tentang hukum gerak. Dia menunjukkan bagaimana hukum-hukum itu dapat dipergunakan untuk memperkirakan secara tepat gerakan-gerakan planit-planit seputar sang matahari. Persoalan utama gerak-gerik astronomi adalah bagaimana memperkirakan posisi yang tepat dan gerakan bintang-kemintang serta planit-planit, dengan demikian terpecahkan sepenuhnya oleh Newton hanya dengan sekali sambar. Atas karya-karyanya itu Newton sering dianggap seorang astronom terbesar dari semua yang terbesar.


0

Kuntungan dan Kerugian Gaya Gesek

Unknown Sabtu, 02 Maret 2013
Kuntungan Gaya Gesek :

        1. Membantu benda agar bergerak tak tergelincir.
            Contohnya ketika berjalan kita tidak tergelincir karena kaki dan sepatu kita bergesekan dengan lantai, jika tidak ada gak gesek kamu tidak bisa berjalan karena selalu tergelincir

         2. Untuk menghentikan benda yang sedang bergerak
              Contoh gampangnya lihat saja sepedaJ. rem pada sepeda mencekram pelek agar roda sepeda berhenti berputar. Cengkraman rem itu memberi gaya gesek pada pelek.Antara ban dan jalanan juga terjadi gaya gesek jadi sepeda akan berhenti

          3. Menahan benda agar tidak bergeser
             Gaya gesek mampu menahan benda agar tak bergeser. Barang di rumah juga menggunakan gaya gesek, jika tidak ada gaya gesek barang barang itu akan bergeser.


        1. Menghambat Gerakan
            Benda yang bergerak selalu ditahan gaya gesekan dan benda bergerak juga ditahan gaya gesekan jadi gerakan benda menjadi terhambat.

       2. Mengikis permukaan yang bergeser
            Jika kamu sering melihat sol sepatu mu, sol sepatumu lama lama menjadi tipis karena permukaannya sudah AUS karena sering bergesekan 

         3. Memboroskan energi untuk mengatasi gaya gesekan
            Agar benda bisa bergerak harus melawan gaya gesekan dan harus ada gaya tambahan . misalnya dengan dorongan lebih kuat jika mendorong benda dikarpet , berbeda jika di lantai yang permukaannya licin

0

Three Pig And Wolf

Unknown Jumat, 01 Maret 2013





THREE PIG AND WOLF


Once upon a time there were three little pigs, who left their mummy and daddy to see the world. 

All summer long, they roamed through the woods and over the plains, playing games and having fun. None were happier than the three little pigs, and they easily made friends with everyone. Wherever they went, they were given a warm welcome, but as summer drew to a close, they realized that folk were drifting back to their usual jobs, and preparing for winter. Autumn came and it began to rain. The three little pigs started to feel they needed a real home. Sadly they knew that the fun was over now and they must set to work like the others, or they'd be left in the cold and rain, with no roof over their heads. They talked about what to do, but each decided for himself. The laziest little pig said he'd build a straw hut. 

"It will only take a day,' he said. The others disagreed. 

"It's too fragile," they said disapprovingly, but he refused to listen. Not quite so lazy, the second little pig went in search of planks of seasoned wood. 

"Clunk! Clunk! Clunk!" It took him two days to nail them together. But the third little pig did not like the wooden house. 

"That's not the way to build a house!" he said. "It takes time, patience and hard work to build a house that is strong enough to stand up to wind, rain, and snow, and most of all, protect us from the wolf!" 

The days went by, and the wisest little pig's house took shape, brick by brick. From time to time, his brothers visited him, saying with a chuckle. 

"Why are you working so hard? Why don't you come and play?" But the stubborn bricklayer pig just said "no". 

"I shall finish my house first. It must be solid and sturdy. And then I'll come and play!" he said. "I shall not be foolish like you! For he who laughs last, laughs longest!" 

It was the wisest little pig that found the tracks of a big wolf in the neighborhood. 

The little pigs rushed home in alarm. Along came the wolf, scowling fiercely at the laziest pig's straw hut. 

"Come out!" ordered the wolf, his mouth watering. I want to speak to you!" 

"I'd rather stay where I am!" replied the little pig in a tiny voice. 

"I'll make you come out!" growled the wolf angrily, and puffing out his chest, he took a very deep breath. Then he blew with all his might, right onto the house. And all the straw the silly pig had heaped against some thin poles, fell down in the great blast. Excited by his own cleverness, the wolf did not notice that the little pig had slithered out from underneath the heap of straw, and was dashing towards his brother's wooden house. When he realized that the little pig was escaping, the wolf grew wild with rage. 

"Come back!" he roared, trying to catch the pig as he ran into the wooden house. The other little pig greeted his brother, shaking like a leaf. 

"I hope this house won't fall down! Let's lean against the door so he can't break in!" 

Outside, the wolf could hear the little pigs' words. Starving as he was, at the idea of a two course meal, he rained blows on the door. 

"Open up! Open up! I only want to speak to you!" 

Inside, the two brothers wept in fear and did their best to hold the door fast against the blows. Then the furious wolf braced himself a new effort: he drew in a really enormous breath, and went ... WHOOOOO! The wooden house collapsed like a pack of cards. 

Luckily, the wisest little pig had been watching the scene from the window of his own brick house, and he rapidly opened the door to his fleeing brothers. And not a moment too soon, for the wolf was already hammering furiously on the door. This time, the wolf had grave doubts. This house had a much more solid air than the others. He blew once, he blew again and then for a third time. But all was in vain. For the house did not budge an inch. The three little pigs watched him and their fear began to fade. Quite exhausted by his efforts, the wolf decided to try one of his tricks. He scrambled up a nearby ladder, on to the roof to have a look at the chimney. However, the wisest little pig had seen this ploy, and he quickly said. 

"Quick! Light the fire!" With his long legs thrust down the chimney, the wolf was not sure if he should slide down the black hole. It wouldn't be easy to get in, but the sound of the little pigs' voices below only made him feel hungrier. 

"I'm dying of hunger! I'm going to try and get down." And he let himself drop. But landing was rather hot, too hot! The wolf landed in the fire, stunned by his fall. 

The flames licked his hairy coat and his tail became a flaring torch. 

"Never again! Never again will I go down a chimney" he squealed, as he tried to put out the flames in his tail. Then he ran away as fast as he could.  

The three happy little pigs, dancing round and round the yard, began to sing. "Tra-la-la! Tra-la-la! The wicked black wolf will never come back...!" 

From that terrible day on, the wisest little pig's brothers set to work with a will. In less than no time, up went the two new brick houses. The wolf did return once to roam in the neighborhood, but when he caught sight of three chimneys, he remembered the terrible pain of a burnt tail, and he left for good. 

Now safe and happy, the wisest little pig called to his brothers. "No more work! Come on, let's go and play!"

0

The Story Of Jaka Tarub

Unknown

JAKA TARUB AND NAWANG WULAN

Jaka Tarub was a handsome and diligent young man. He lived in a village near a lake. One day, when Jaka Tarub passed the lake, he heard some giggles and laughs of some girls who were bathing in the lake. He was curious, so he peeped through the bushes. There were seven beautiful girls in the lake. They’re fairies from the heavenly kingdom of kahyangan. Jaka Tarub saw a scarf near the bushes. It belonged to one of the fairies. Jaka Tarub then took it and hid it.

Crack!!! Accidentally, Jaka Tarub stepped on a twig. “There’s someone!” said one of the fairies. “Let’s get back. Hurry!” she said. They pulled over and wear their scarf. “Where is my scarf?” one of the fairies couldn’t find her scarf. She was the youngest fairy called Nawang Wulan. They tried to search for it, but it was no where to be found. “We’re sorry, Wulan. We have to go back to kahyangan,” said the eldest fairy. “You’ll have to find it by yourself. We’ll wait for you in kahyangan,” she said in empathy. The other fairies then flew to the sky leaving Nawang Wulan behind. Nawang Wulan saw them leaving in tears. She was so sad.

“Excuse me …,” said Jaka Tarub, startling Nawang Wulan. “Are you okay?” he asked. Nawang Wulan moved backward, “Who are you?” she asked. “My name is Jaka Tarub. I was passing by and I heard you crying, so I came to see what happen,” Jaka Tarub lied. Nawang Wulan then told him about her problem. “I can’t fly without my scarf,” she said. Jaka Tarub then asked Nawang Wulan to come home with him. At first, Nawang Wulan refused the offer. But since she didn’t have anywhere else to go, Nawang Wulan then decided to follow Jaka Tarub.

Cerita jaka tarub dan 7 bidadari dalam bahasa inggrisNawang Wulan stayed with Jaka Tarub in the village. A month passed, and they decided to get married. Nawang Wulan was willing to marry a human because she fell in love with Jaka Tarub. After a year, they had a beautiful daughter. They named her Kumalasari. They lived happily.

Jaka Tarub was also happy to live with Nawang Wulan and Kumalasari. Especially because he always got a lot of harvest since he married Nawang Wulan. He couldn’t even keep all of his harvest in the barn because it was always full. “It’s so weird. Nawang Wulan cooked everyday, but why is my barn always full,” Jaka Tarub mumbled to himself. He was so curious. One day, Jaka Tarub stayed at home. “I want to stay home today. I’d like to play with Kumalasari,” he said to his wife. “Well, I’ll go to the river to wash the clothes. Please keep an eye on Kumalasari,” asked Nawang Wulan. “I’m cooking rice now. Please do not open the pan cover before it’s done,” she said just before she left. “Could this be the secret?” Jaka Tarub thought. After Nawang Wulan left, he curiously opened the pan cover. He found only one single paddy. “How come?” he wondered.

Before lunch, Nawang Wulan came home. She headed to the kitchen to see the rice she had cooked. She found that the rice turned into only a few grains. “Did you open the pan cover?” she asked her husband. “I… I’m sorry. I was curious,” Jaka Tarub said as he realized his fault.

Ever since, Nawang Wulan had lost her power. She couldn’t cook rice with only a single paddy. Their paddy supply was slowly lessened. Their barn was almost empty. One day, Nawang Wulan went to the barn to get some paddy. When she took one of them, she found a scarf. “What’s this? This is my scarf,” said Nawang Wulan startled.

That night, Nawang Wulan asked her husband about the scarf. Jaka Tarub’s eyes widened, “You found it?” he asked. Jaka Tarub looked down and asked for her forgiveness. “Because I’ve found my scarf, it’s time for me to go back to where I belong,” Nawang Wulan said. Jaka Tarub tried to stop her, but Nawang Wulan had made up her mind. “Please take good care of Kumalasari,” she said. “If she wanted to see me, take seven grains of candlenut and put it into a basket. Shake it as you play the bamboo flute. I’ll come to see her,” she explained.

Jaka Tarub promised to take good care of their daughter. He once again asked for forgiveness for all of his mistakes. “I’ve forgiven you, so you don’t have to feel guilty. I must go now. Take care,” said Nawang Wulan as she flew to the bright full moon.

 
Copyright 2010 Miftaqul's Blog